Sejarah Cetak-Mencetak / Asal Mula Sablon

Ts’ai Lun seorang penemu pembuatan kertas di Cina dianggap juga sebagai penemu cara-cara mencetak (block printing) pertama kali di dunia dan hal ini terjadi pada tahun 105. Ts’ai Lun mengukir suatu objek pada sebilah kayu, memberinya zat warna di bagian yang timbul pada ukiran kayu tersebut pada kertas. Inilah prinsip cara mencetak pertama kali di dunia. Beberapa ratus tahun kemudian, yaitu pada sekitar tahun 1045, seorang pencetak, Pi Sheng, membuat berbagai jenis objek pada tanah liat. Setiap objek dibuat pada sekeping tanah liat. Dengan kepingan-kepingan tanah liat inilah disusun suatu objek baru yang kemudian digunakan untuk mencetak. Kemudian, hal ini dikembangkannya dengan mengukir setiap objek pada sebilah kayu sehingga pencetakan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Hal inilah yang kemudian menjadi cikal bakal percetakan yang dilakukan dengan menggunakan huruf-huruf yang digabung-gabung menjadi suatu kata, seperti yang ada sekarang.

Pada saat orang-orang di Asia telah mempergunakan cara mencetak dengan ukiran kayu, orang-orang di Eropa masih mempergunakan tulisan tangan untuk memperbanyak buku-buku. Banyak sekali kaum biarawan menghabiskan waktu selama hidupnya dengan membuat salinan buku-buku dengan tulisan tangan. Barulah pada tahun 1400-an, orang Eropa menemukan cara mencetak (block printing). Adapun objek pertama yang dicetak pada saat itu adalah gambar dari St. Christophorus (1423). Pada saat yang hampir bersamaan, orang mulai menjilid buku hasil cetakan dengan block printing tadi.



Pada masa renaissance menyelimuti Eropa, kebutuhan belajar menjadi begitu besar sehingga dibutuhkan begitu banyak buku yang harus disalin. Cara Menyalin dengan tulisan tangan dan block printing sudah tidak mungkin lagi memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat itulah, pencetakan menurut Pi Sheng mulai dianut orang. Para pencetak mulai membuat alat pencetak yang terdiri atas keping-keping huruf. Setiap huruf baik itu huruf kapital maupun huruf kecil, masing-masing dibuat dalam bentuk kepingan tersendiri. Dengan menyusun kepingan-kepingan huruf tersebut, dibuatlah suatu tulisan. Hasil cetakannya tentu lebih cepat. Banyak orang saat itu menganggap pembuatan buku yang sama bentuk tulisannya dalam jumlah besar dalam waktu singkat adalah pekerjaan setan atau sihir. Mereka blum mengerti bagaimana hal tersebut dikerjakan.

Menurut sejarahm, hal cetak-mencetak sebenarnya tidak lepar dari jasa Johannes Gutenberg, orang jerman yang kemudian dianggap sebagai “Bapak cetak-mencetak”. Gutenberg mampu mencetak 300 cetakan dalam sehari dan pada tahun 1456 dia menjadi terkenal karena berhasil mencetak Kitab Injil untuk pertama kalinya.
Di Amerika Utara pada tahun 1539, seorang berkebangsaan Itali. Juan Pablos (Giovanni Paoli), membuka perusahaan percetakan di Mexico. Banyak orang percaya bahwa inilah perusahaan percetakan pertama di Amerika Utara. Keadaan ini diikuti pada tahun 1639 oleh Stephen Daye yang membuka perusahaan percetakan pula di Cambridge. Selanjutnya, perihal cetak-mencetak ini tersebar luas sampai ke seluruh koloni Amerika. Dengan adanya perusahaan percetakan, mulailah muncul surat kabar dan majalah yang pertama kali diterbitkan oleh John Campbell (Boston News-Letter) pada tahun 1704, yang selanjutnya diikuti oleh munculnya berbagai surat kabar dan majalah-majalah lainnya.
Jaman cetak-mencetak cara Gutenberg mulai berubah pada tahun 1800-an, dengan ditemukannya tenaga uap untuk mencetak melalui suatu silinder oleh Fiedrich Koening. Silinder dari logam ini menekan kertas pada alat pencetak yang datar. Surat kabar Times of London mempergunakan mesin cetak ini untuk pertama kalinya pada tahun 1814, dengan kemampuan mencetak 1100 lembar dalam setiap jamnya. Tidak lama setelah penemuan mesin cetak tersebut. Richard Hoe seorang Amerika, menemukan mesin cetak yang mempergunakan silinder putar. Dengan mesin cetaknya ini. Hoe berhasil mempercepat proses pencetakan menjadi 8000 lembar per jam, dan kemudian meningkat menjadi 20.000 lembar per jam.
Sampai Saat tersebut, semua tulisan atau objek yang akan dicetak disusun dengan tangan sama seperti saat Gutenberg mencetak pertama kali 400 tahun sebelumnya. Namun pada tahun 1884, Ottmar Mergenthaler seorang jerman yang tinggal di Amerika, menemukan cara mencetak yang dipatenkan dengan nama Linotype yang membuat cara mencetak jauh lebih efisien. Pada cara Linotype, seorang operator percetakan akan mengetik naskah melalui alat yang menyerupai mesin ketik. Hasil ketikannya ini kemudian disiram dengan logam cair yang akan mengeras dalam waktu singkat dan kemudian dijadikan cetakan untuk cetak-mencetak naskah tadi.
Nampaknya seni cetak-mencetak ini tidak berakhir disitu saja, melainkan terus berkembang hingga ditemukannya mesin fotocopy, mesin photolithography, mesin cetak dengan komputer, dan mesin offset modern seperti saat ini.
Sekarang ini, percetakan menjadi suatu kegiatan yang penting dalam komunikasi bersama-sama dengan radio, televisi, dan gambar hidup. Seperti telah disebutkan diatas bahwa pada jaman renaissance percetakan menjadi alat yang sangat didambakan untuk pendidikan, nampaknya hal ini berlanjut sampai sekarang. Percetakan tetap menjadi kegiatan dasar dari sistem pendidikan. Di samping itu, kegiatan-kegiatan lain juga mulai bertumpu pada percetakan, seperti misalnya kegiatan industri dan perdagangan dengan iklan-iklannya.

Hampir semua cara mencetak yang ada saat ini dilakukan berdasarkan tiga proses menurut jenis permukaan alat cetaknya, yaitu
  1. Cetak Tekan (Letterpress Printing), permukaan alat cetaknya menonjol (timbul). Pada bagian yang menonjol inilah tergambar objek yang akan dicetakkan. Bagian ini dikenai tinta, yang kemudian mengalih objek ke kertas apabila ditekankan pada kertas.
  2. Cetak Lithografi (Offset Lithographic Printing), permukaan cetakya datar. Hal ini dapat dijumpai misalnya pada mesin stensil. Adapun arti dari kata lithografi adalah menggambar pada sebuah batu datar (semacam batu tulis), kemudian mengalihkan gambar yang ada pada batu tersebut ke kertas.
  3. Gravir (Gravure Printing), permukaan alat cetak tekan itu cekung ke dalam.

Screen Printing atau sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan “sablon”. Screen printing ini termasuk dalam jenis cetak Lithografi. Untuk melaksanakan screen printing dibutuhkan suatu tirai (screen) yang mempunyai pori-pori halus. Sebelumnya digunakan, screen ini terlebih dahulu harus dilapisi dengan bahan penutup (bahan coating) yang berfungsi untuk menutup seluruh pori yang ada. Kemudian, objek yang akan dicetak dipindahkan ke screen tersebut dengan perantaraan cahaya. Setelah dikembangkan, pori-pori yang terdapat pada screen yang mengandung objek yang baru saja dialihkan padanya, akan terbuka, sedangkan pori-pori bagian yang lain akan tetap tertutup oleh bahan penutup. Pada saat proses pemberian tinta, pori-pori yang terbuka dan membentuk objek yang akan dicetak serta akan meneruskan tinta tersebut pada kertas atau bahan yang akan dicetak lainnya.
Dengan Demikian, terjadilah suatu hasil cetakan. Adapun satu-satunya perbedaan dengan mesin stensil yang biasa digunakan adalah tidak digunakannya silinder penekan pada screen printing yang akan dibicarakan ini. Penekanan tinta dilakukan dengan tangan melalui alat yang diberi nama rakel. Screen Printing dapat dilakukan pada hampir semua jenis bahan, antara lain bahan kertas, mika, plastik, kaca, kayu, kulit, logam, dan kain.

This entry was posted in , . Bookmark the permalink.

Leave a reply

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Galery Usaha TEMPLATE ERROR: No dictionary named: 'post' in: ['blog', 'skin', 'view']; Berti Kiuk TEMPLATE ERROR: No dictionary named: 'post' in: ['blog', 'skin', 'view']; Rating Blog: 5 dari 5